Pengadaan Laptop Chromebook Pernah Disetop Kemendikbud Sebelum Era Nadiem, Ini Alasannya

SHARE
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mantan Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) periode 2017-2020, Gogot Suharwoto mengungkap pengadaan laptop chromebook pernah tidak dilanjutkan Kementerian Pendidikan di era 2019. Hal itu disampaikan saat Gogot menjadi saksi dalam sidang lanjutan rasuah proyek chromebook di era Mendikbud Nadiem Makarim.

“Pada saat program bakti tersebut itu sempat diadakan pengadaan laptop? Tahun berapa itu?” tanya jaksa di Pengdilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (6/1).

Alasan Ditolak

Gogot menuturkan pada Maret 2019 atau sebelum dipimpin Nadiem Makarim, Kementerian Pendidikan melakukan dua kali pengadaan. Pengadaan pertama di bulan Maret itu 4 laptop, terdiri dari 2 chromebook, 2 Windows. Pengadaan itu, jelas Gogot, didistribusi untuk 500 satuan pendidikan, sekolah.

“Jadi setiap sekolah dapat dua laptop Windows, dua laptop Chromebook,” tutur Gogot

Gogot menambahkan, pada Oktober terjadi penambahan anggaran dan menambah ke 1300 sasaran. Namun sebelum itu dilakukan, pihaknya melakukan evaluasi yang berujung tidak melanjutkan pengadaan unit Chromebook pada Oktober 2019.

“Kenapa di-setop Chromebook pada saat itu? Alasannya kenapa di-stop?” tanya jaksa.

Gogot mengungkap, hasil survei dari sekolah yang pernah menerima Chromebook untuk memberikan respons dan testimoni. Total ada 500 sekolah penerima, dengan disimpulkan empat alasan mengapa chromebook disetop.

“Yang pertama, di daerah 3T (tertinggal, terluar dan terpencil). Meskipun ada jaminan internet, karena kami sudah dijamin, sekolah yang kita beri harus ada approval dari Kominfo ada internet. Hanya karena daerah 3T secara demografis banyak tantangan. Ada awan tebal saja itu internetnya sudah goyang karena pakai satelit. Harus nembak ke atas, tidak ada kabel,” ujar Gogot.

“Jadi intinya internetnya tidak stabil. Padahal nyawanya chromebook itu harus koneksi internet. Meskipun ada storage yang kita siapkan tapi sangat kecil sekali tidak akan optimal untuk pembelajaran. Jadi yang pertama internetnya tidak stabil sehingga fungsi Chromebook tidak maksimal,” ujar Gogot catat alasan pertama.

Alasan kedua, Gogot menuturkan SDM di daerah 3T tidak familiar dengan interface Chromebook sampai dengan sekarang.

“Jadi intinya tidak biasa menggunakan Chromebook SDM-nya. Guru-guru terutama ya, karena kita berikan untuk guru,” jelas Gogot.

Ketiga, sambung Gogot, pada tahun 2019 Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) masih berjalan. Namun terhadap laptop yang berbasis Chromebook belum bisa digunakan karena terkendala aplikasi yang tidak bis di-install.

“Dan yang terakhir adalah Chromebook terbatas untuk instalasi aplikasi-aplikasi tambahan. Contoh kita punya aplikasi Dapodik itu tidak bisa. Kemudian juga beberapa aplikasi-aplikasi yang tidak approve oleh Google tidak bisa dioperasikan di dalam Chromebook. Jadi empat alasan itu yang membuat kita di Oktober 2019 kita setop menggunakan Chromebook,” dia menandasi.(Int/*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *